top of page
  • Writer's pictureAl-Amjad

Sebuah Aset Berharga

Tak henti jari jemari ini menjamah layar hp scrolling info yang beredar di dunia maya. Berawal dari berita pada story whats App, Instagram, facebook, dan terus kuselancari koran online yang ada. Rasa penasaran akan judul berita yang mengherankan mata. Isu kejahatan dan kriminal yang menyangkut level anak dan remaja. Kian hari seolah semakin berkembang dalam sisi negatifnya. Hal yang tak terlintas di benak akal orang dewasa. Mengherankan dan miris namun begitulah kenyataannya. Tak perlu dijelaskan bagaimana detailnya namun saya yakin kita telah melihat dan mendengar berita yang berkembang kian hari kian mengherankan. Terus ku baca dan ku telisik mengapa hal itu terjadi yang seolah akan bercerita tentang pendidikan kita. Berita yang berbicara tentang anak dan remaja. Tak perlu mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Karna semua ini tentang saya, kamu, dan kita. Tentang langkah kita dalam mendidik aset yang telah Allah Ta’ala karuniakan dalam teras kehidupan kita. Tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita.



Allah Ta’ala tidak akan membiarkan kita berkelana di dunia ini tanpa arah dan panduan. Dari awal manusia diturunkan di muka bumi ini, hingga umat terakhir yang ada, Allah Ta’ala telah mengutus Rasul sebagai utusan yang akan mengarahkan kita tentang apa yang seharusnya kita lakukan di sini. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah membersamai umat manusia berupa Kitab Suci sebagai arah panduan dalam melangkah. Berisi firman Allah Ta’alayang akan menunjukkan kepada kita mana yang benar dan mana yang salah. Sebagai alur rel kehidupan kita yang mengidamkan firdaus yang didamba. Sebuah pedoman tentang bagaimana harusnya manusia melangkah. Tentang bagaimana seharusnya kita mendidik anak-anak kita.


Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyatakan dalam hadisnya,


إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاق


Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR. Ahmad)


Bila kita membaca siroh (perjalanan hidup) Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, niscaya akan kita dapatkan wujud nyata dari sabda Beliau ini, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam benar-benar sebagai uswah paling bagus dalam menerapkan akhlaqul karimah. Sebagai seorang hamba, Beliau adalah hamba Allah yang paling mulia akhlaknya, sebagai seorang pemimpin, Beliau adalah pemimpin yang paling adil, bijak, dan sabar, sebagai seoarang suami, Beliau adalah suami yang paling baik terhadap istrinya.


Kita butuh kepada qudwah hasanah, kita butuh kepada contoh atau teladan yang baik dalam berakhlaqul karimah secara realistis. Sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallamterhadap masyarakatnya pada waktu itu yang notabene masih begitu terpuruk akhlaknya maupun hubungan sosial antar sesama mereka. Bagaimana Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mendidik anak-anak dan remaja pada zamannya. Kita bisa menilik sejarah bagaimana kesuksesan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mendidik anak-anak serta remaja pada waktu itu sehingga menjadi golden agenya umat ini.


Antara akhlak dengan akidah terdapat hubungan yang sangat kuat sekali. Karna akhlak yang baik adalah sebagai bukti dari keimanan yang benar begitu juga dengan sebaliknya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,


أَكمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا


Artinya : “Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik diantara mereka.” (HR. At-Tirmidzi)


Seorang anak shalih merupakan idaman bagi orang tuanya. Saya, Kamu dan kita semua sangat menginginkan kehadiran sosok anak yang shalih. Dia yang akan menjadi aset berharga bagi orang tuanya tatkala orang tuanya telah tiada, lewat doa dan amal shalih yang ia perbuat selama di dunia. Namun bagaimana kiat dalam menghadirkan sosok anak yang shalih dan shalihah di negeri ataupun rumah kita? Berikut akan kita rangkum dalam tulisan ini:


1. Do’akan mereka


Setiap kita harusnya berdoa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla atas setiap hal yang kita inginkan dan butuhkan. Termasuk pada kehadiran sosok anak yang shalih, hendaknya seorang muslim meminta kepada Allah ‘Azza Wa Jallaagar dihadirkan anak yang shalih di rumah kita atau menjadikan anak-anak kita menjadi anak yang shalih. Sebagaimana Allah ‘Azza Wa Jalla sifati Ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman yang disebutkan dalam surah Al Furqan dimana mereka senantiasa memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar dikaruniakan mereka istri-istri dan anak-anak sebagai penyejuk mata.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,


وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتِّقِيْنَ إِمَامًا


Artinya: “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqon: 74)


2. Didiklah mereka dengan didikan islami


Mendidik bukanlah hal yang sepele dan mudah. Ia membutuhkan proses dengan durasi yang cukup lama. Didikan kita hari ini terhadap anak-anak kita merupakan benih yang akan kita tuai di kemudian hari. Jika kita ingin memanen jagung dengan kualitas yang terbaik, maka tanamlah benih jagung dengan kualitas terbaik dengan mengikuti alur bagaimana cara menanam dan merawat ladang jagung tersebut. Begitu juga jika seseorang berharap menuai anak yang shalih, maka didiklah mereka dengan didikan yang islami, pupuklah mereka dengan asupan gizi dari yang halal dan berkah, hiasilah kehidupan mereka dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dan jika Anda belum menikah maka hadiahkanlah mereka ibu yang shalihah dengan pilihan Anda yang akan mereka nikmati didikan islaminya pada madrasah pertamanya.


Seorang khalifah Bani Umayyah yang bernama Abdul Malik bin Marwan Rahimahullah pernah memberikan nasihat kepada pengajar adab anaknya.


Beliau Rahimahullah mengatakan: “Ajarilah mereka tentang kejujuran sebagaimana engkau ajarkan mereka Al-Qur’an, didiklah mereka akhlak yang mulia, berilah mereka motivasi dari Syair-syair Arab yang indah nan bermakna, dudukkanlah (dekatkanlah/temankanlah) mereka dengan teman-teman yang shalih dan berilmu diantara mereka, hukumlah mereka tatkala mereka melakukan perbuatan dusta karna sesungguhnya perbuatan dusta itu akan mengarah kepada dosa dan perbuatan dosa itu akan membawa seseorang kepada neraka.

Kekhawatiran kita akan menuntun apa langkah kita selanjutnya. Kekhawatiran kita terhadap anak kita di masa yang akan datang akan membuka jalur bagaimana dan apa hal yang harus kita berikan terhadap anak kita. Seperti halnya Nabi Ya’kub ‘Alaihissalam yang khawatir apa yang akan disembah oleh anaknya sepeninggalan dari Nabi Ya’kub, ia khawatir tentang keimanan dari anak-anaknya kelak. Maka nabi Ya’kub terus menerus mendidik anaknya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mendidik anaknya dengan keimanan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Hingga pada akhirnya, tatkala sedang sakit dan saat maut akan menjemputnya, ia bertanya kepada anaknya,


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,


إِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ بِعْدِيْ


Artinya: “Ketika dia (Ya’kub) berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah: 133)


Inilah bentuk kekhawatiran seorang nabi kepada anaknya, bukan tentang materi kehidupan namun tentang keimanan. Lantas mari kita lihat apa jawaban anaknya,


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,


قَالُوا نَعْبُدُ إِلهك وإله أبَائِكَ إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمعِيْل وَاِسْحَاقَ إلهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ


Artinya: “Mereka Menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 133)


Maka dari itu, mari kita didik anak-anak kita, aset berharga yang telah Allah ‘Azza Wa Jalla titipkan kepada kita dengan nilai-nilai keislaman yang baik. Jadilah teladan bagi mereka dan bertakwalah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Contohlah bagaimana para Anbiya’ mendidik kaumnya, teladanilah bagaimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mendidik umatnya pada waktu itu. Pelajarilah bagaimana seorang yang shalih bernama Luqman dalam mendidik dan menasehati anaknya dan bahkan Allah Ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an.


Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla mengkaruniakan kepada kita generasi yang shalih dan shalihah, penyejuk hati kita. Aamiin.


Disusun Oleh: Dwi Surya Praja, S.Pd.


Referensi:

Al-Qur’an Al-Karim.

Al-Ahadits An-Nabawiyah.

Ath-Thoriq Ilal Waladish Sholih, Karya Asy Syaikh Wahid Abdus Salam Bali, Penerbit Darudh Dhiya.


Kommentarer


bottom of page