Inovasi Siswa SMA Al-Amjad untuk OPSI 2026: Dari Kulit Buah hingga Jalan Penyejuk Kota

Berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, para siswa SMA Swasta Al-Amjad menghadirkan lima karya penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. Mulai dari pemanfaatan limbah kulit buah, perawatan kulit berbahan alami, pengawetan buah, hingga pengembangan jalan yang lebih sejuk, setiap karya menunjukkan keberanian siswa dalam mengubah masalah menjadi peluang inovasi.
Penelitian ini tidak hanya melatih siswa memahami teori. Mereka juga belajar menyusun hipotesis, merancang formula, melakukan percobaan, membaca data, serta mengevaluasi keterbatasan hasil penelitian. Inilah lima inovasi yang mereka kembangkan.

Permen Jelly dari Kulit Buah untuk Pangan Fungsional
Aliza Syafitri dan Miftha Almi Siregar mengembangkan permen jelly berbahan kulit buah naga merah dan kulit jeruk manis. Gagasan ini berawal dari dua persoalan sekaligus: meningkatnya perhatian terhadap kadar glukosa darah dan banyaknya kulit buah yang belum dimanfaatkan.
Kulit buah naga diketahui mengandung senyawa seperti fenolik, flavonoid, dan betalain, sedangkan kulit jeruk mengandung flavonoid, hesperidin, serta pektin. Berbagai senyawa tersebut memiliki potensi antioksidan dan masih perlu diteliti lebih lanjut terkait perannya dalam membantu pengendalian glukosa darah.
Tim membuat tiga formulasi dengan konsentrasi ekstrak kulit jeruk sebesar 50%, 25%, dan 15%, sementara konsentrasi ekstrak kulit buah naga dipertahankan sebesar 50%. Formulasi ketiga memberikan karakteristik paling baik: rasanya tidak pahit, warnanya tidak terlalu pekat, dan teksturnya lebih menyerupai permen gummy.
Hasil tersebut menjadi langkah awal yang menjanjikan. Namun, efektivitas permen dalam membantu mengontrol glukosa darah belum diuji secara langsung. Penelitian berikutnya masih memerlukan uji kandungan, penghambatan enzim, keamanan, daya simpan, serta penerimaan konsumen.
GarShield: Menggali Potensi Antibakteri Kulit Manggis
Ayya Shopiah Putri Bispo dan Nadelyne Ameera Sitompul meneliti pemanfaatan ekstrak kulit manggis dalam formula spray antiseptik untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi ketika memasuki luka terbuka.
Kulit manggis dipilih karena mengandung xanthone, flavonoid, dan senyawa fenolik yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Tim mengembangkan tiga formula dengan konsentrasi ekstrak kulit manggis sebesar 5%, 7,5%, dan 10%. Setiap formula juga mengandung benzalkonium chloride atau BKC sebesar 0,2%.
Hasil uji difusi cakram menunjukkan peningkatan zona hambat seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak. Formula 5% menghasilkan rata-rata zona hambat 8,33 milimeter, formula 7,5% mencapai 10,23 milimeter, dan formula 10% menghasilkan zona hambat tertinggi sebesar 12,17 milimeter.
Temuan tersebut menunjukkan potensi formula sebagai bahan antibakteri. Meski demikian, penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memisahkan kontribusi ekstrak kulit manggis dari BKC, menentukan konsentrasi hambat minimum, serta menguji stabilitas dan keamanan produk sebelum digunakan pada kulit atau luka.

MOVA-Coat: Lapisan Alami untuk Menjaga Kesegaran Buah
Kerusakan buah setelah panen dapat menimbulkan kerugian sekaligus meningkatkan limbah pangan. Menjawab persoalan tersebut, Farid Rizqullah dan Syahdan Mufrizal dari Tim Safarmoon mengembangkan MOVA-Coat, lapisan yang dapat dimakan atau edible coating berbasis pati singkong, lidah buaya, dan ekstrak daun kelor.
Setiap bahan mempunyai peran tersendiri. Pati singkong membentuk lapisan pelindung, lidah buaya membantu mempertahankan kelembapan, sedangkan daun kelor menyediakan senyawa bioaktif yang berpotensi menghambat mikroorganisme pembusuk.
Dalam pengamatan selama tujuh hari, buah tanpa pelapis mengalami penyusutan massa sekitar 25%, sedangkan buah yang diberi MOVA-Coat mengalami penyusutan sekitar 10%. Buah berlapis juga mempertahankan warna dan teksturnya lebih lama serta menunjukkan indikasi pertumbuhan mikroorganisme yang lebih rendah.
MOVA-Coat menawarkan pendekatan yang menarik karena menggunakan bahan lokal, dapat terurai, dan berpotensi mengurangi kehilangan pangan. Karena data penelitian masih bersifat deskriptif, tahap berikutnya perlu mencakup pengujian jumlah mikroorganisme, kadar air, pH, karakteristik sensorik, serta penerapan pada lebih banyak jenis buah.

Oathea: Lotion Alami untuk Kulit Kering dan Sensitif
Naziha Saghira Lubis dan Nisrina Aulia Amini mengembangkan lotion berbahan colloidal oat dan lidah buaya untuk membantu merawat kulit kering, sensitif, atau mengalami gejala seperti kemerahan dan iritasi.
Penelitian dilakukan melalui tiga variasi formula. Formula pertama menggunakan 10% lidah buaya dan 3% colloidal oat. Formula kedua menggunakan 15% lidah buaya dan 5% colloidal oat, sedangkan formula ketiga menggunakan 20% lidah buaya dan 7% colloidal oat.
Dari pengamatan karakteristik fisik, formula ketiga dipilih sebagai formula terbaik karena menghasilkan lotion yang homogen, berwarna putih, dan memiliki takaran yang sesuai. Pengamatan awal pada kulit juga memperlihatkan berkurangnya kemerahan setelah pemakaian.
Hasil ini masih merupakan indikasi awal dari pengamatan visual terhadap subjek yang terbatas. Oleh sebab itu, Oathea belum dapat dinyatakan sebagai produk yang menyembuhkan eksim. Pengujian pH, viskositas, stabilitas, keamanan, dan efektivitas dengan jumlah subjek yang lebih besar diperlukan sebelum manfaatnya dapat disimpulkan secara klinis.
ReVitra: Merancang Jalan yang Lebih Sejuk dari Material Limbah
Rianna Savira Callista Lubis dan Quinsya Danish Safaraz membawa penelitian ke bidang fisika terapan dan rekayasa material melalui ReVitra. Inovasi ini dirancang sebagai eco-cool pavement atau perkerasan jalan yang dapat mengurangi penyerapan panas sekaligus memanfaatkan limbah kaca dan sekam padi.
Tim membandingkan empat campuran aspal. Formula terbaik, F3, memadukan aspal dengan 10% serbuk kaca, 4% biochar sekam padi, dan 5% Phase Change Material berupa lilin parafin.
Ketika dipanaskan selama 60 menit, aspal kontrol mencapai suhu maksimum 62,2°C, sedangkan F3 hanya mencapai 51,5°C. Artinya, terdapat selisih 10,7°C atau reduksi suhu sebesar 17,20%. F3 juga mencatat laju pemanasan paling rendah dan tidak menunjukkan retak maupun deformasi yang terlihat setelah pengujian.
Hasil tersebut menjadikan ReVitra sebagai inovasi dengan performa termal yang menjanjikan. Namun, pengujian masih dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan sumber panas buatan. Uji kekuatan mekanik secara kuantitatif, siklus pemanasan berulang, durabilitas, dan percobaan lapangan masih dibutuhkan untuk menilai kelayakannya sebagai material jalan.

Menumbuhkan Peneliti Muda yang Peka terhadap Lingkungan
Kelima karya ini bergerak dalam bidang yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama: menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk memberi manfaat. Kulit buah yang biasanya dibuang diolah menjadi bahan pangan dan antibakteri. Tanaman lokal dikembangkan menjadi pelapis buah dan produk perawatan kulit. Limbah kaca serta sekam padi direkayasa menjadi material yang berpotensi membantu menurunkan suhu permukaan jalan.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk, proses menuju OPSI 2026 menjadi ruang belajar bagi siswa untuk bersikap kritis dan jujur terhadap data. Mereka belajar bahwa sebuah temuan awal bukanlah akhir penelitian, melainkan pintu menuju pengujian yang lebih mendalam.
Semoga setiap ikhtiar para peneliti muda SMA Al-Amjad mendapatkan kemudahan, menghasilkan ilmu yang bermanfaat, dan menjadi langkah awal lahirnya inovasi-inovasi yang lebih besar bagi masyarakat serta lingkungan. Mari berikan doa dan dukungan terbaik untuk perjalanan mereka dalam OPSI 2026.
keren bangett inovasi jalan menggunakan limbahh
MasyaAllah inovasinya😍
Semoga dapat hasil terbaik dan masuk final ❤️🔥🤲💪
semoga semua bisa maju ke babak final dan mendapatkan hasil yang terbaik 🫶🏻
Always be the best! SMA AL AMJAD ❤️