• Al-Amjad

Belajar Jujur dari Mbok Minah

“Uang di saku tinggal 20 ribu, harus cukup nih untuk dua hari, Huh..” Gumam Dina sambil menatap ke layar ponselnya. Ia teringat bahwa lusa ayahnya baru dapat mengirimkan uang padanya. Tak lama, ia memutuskan untuk membeli nasi bungkus dari uang tersebut, karena sejak kemarin sore ia belum memakan nasi sedikitpun, ia hanya memakan sepotong roti pemberian Reni, teman sekamarnya.



Dina pun berjalan dengan semangatnya menuju warung nasi “Mbok Minah” yang tak jauh dari kost-nya. Di warung sudah terlihat cukup ramai orang mengantri untuk membeli nasi, karena saat itu adalah jam makan siang. Warung “Mbok Minah” memang tidak begitu besar dan terlihat sederhana. Selain harganya yang terjangkau untuk anak kost, kualitas rasa dan kebersihannya juga masih terjamin. Dina sudah beberapa kali makan di warung tersebut. Menurutnya, rasa dari masakan Mbok Minah tidak jauh berbeda dari masakan ibunya.


Mbok Minah masih terlihat cukup sibuk melayani para pembeli yang sudah kelaparan, begitu juga dengan Dina yang sudah tidak sanggup menahan nyanyian perutnya. Tak lama kemudian, “mau beli apa nak?” tanya Mbok Minah pada Dina. “Nasi pakai perkedel dan telur berapa mbok?” jawab Dina. “Tujuh ribu saja nak, mau?” Tanya Mbok Minah kembali. “Boleh deh Mbok, satu bungkus aja ya mbok.” jawab Dina.“Iya. Sebentar ya nak.” pungkas Mbok Minah sambil membungkus nasi.


“Ini nak,” ucap Mbok Minah sambil memberi nasi bungkus tersebut kepada Dina.

“Terima kasih Mbok, ini uangnya.” Jawab Dina sambil mengambil nasi bungkus dan memberikan uang 20 ribu ke Mbok Minah. Kemudian, ia mengambil uang kembalian yang tergulung dari Mbok Minah dan langsung pergi meninggalkan warung tersebut.


Setelah berjalan beberapa meter dari warung, Dina menghitung kembali uang tersebut. Betapa terkejutnya ia mengetahui uang tersebut melebihi uang yang ia miliki sebelumnya. Ternyata Mbok Minah salah dalam menghitung uang kembaliannya. Terdapat dua lembar uang 10 ribu, selembar uang 20 ribu di dalamnya, dan tiga lembar uang seribu. Dina pun merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia berfikir, jika ia mengambil uang tersebut, maka ia bisa makan malam dan sarapan untuk besok pagi.


Akhirnya, Dina pun memutuskan untuk mengambil uang tersebut. Ia merasa bahwa uang itu adalah rezeki dari Tuhan untuknya. Kemudian, ia melanjutkan kembali perjalanannya, karena ia sudah tidak sabar untuk makan siang. Dina berjalan agak sedikit terburu-buru karena takut Mbok Minah akan menyadari hal itu.


Ternyata benar dugaan Dina. Dari kejauhan terdengar suara Mbok Minah sedang memanggilnya.


“Nak, tunggu sebentar, nak!” Seru Mbok Minah kepada Dina.


Namun Dina tetap melanjutkan perjalanannya dan sedikit mempercapat langkahnya. Ia berpura-pura tidak mendengar seruan dari Mbok Minah. Sementara itu, Mbok Minah yang sedang berlari terengah-engah menuju kearah Dina sudah terlihat kelelahan. Akhirnya, Mbok Minah berhasil menyusuli Dina. Wajah Dina terlihat sedikit ketakutan, dan mencoba menyimpan ketakutannya itu di depan Mbok Minah.


“Ka..kamu berjalan cepat sekali, nak.” Ucap Mbok Minah sambil terengah-engah.


“A..ada apa ya, Mbok ? Bukannya saya sudah memberikan uang pembeliannya kepada Mbok?” tanya Dina sedikit ketakutan, suaranya gugup gemetar.


“Bukan, Nak, Mbok hanya ingin mengembalikan ini. Apakah handphone ini punya kamu? Soalnya tadi Mbok melihat kamu sedang memegang ponsel ini ketika membeli nasi di warung.” Jawab Mbok Minah.


“Ooh iya, Mbok, itu handphone saya. Saya bahkan tidak menyadari kalau hp saya sudah tidak ada di genggaman saya. Untung saja Mbok yang menemukannya, kalau tidak mungkin hp saya sudah dibawa kabur orang lain. Terima kasih banyak ya, Mbok.” Jawab Dina sedikit terharu dan merasa bersalah.



“Iya nak, ndak papa. Lain kali kamu harus waspada dan jangan teledor terhadap barang kamu sendiri. Berarti hp ini masih rezeki kamu. Mbok balik dulu, ya.” Ujar Mbok Minah sambil memberikan ponsel kepada Dina.


“Iya, Mbok. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Mbok.” Ucap Dina kembali.


Seketika tubuh Dina bergetar dan merasa ketakutan. Ia tidak bisa berbicara apapun selain meneteskan air mata. Hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Ia duduk sejenak sambil menenangkan pikirannya. Tak lama, ia memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut kepada Mbok Minah. Ia begitu salut kepada Mbok Minah, walaupun Mbok Minah hidup dalam kesederhanaan, namun ia tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran. Dina pun tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir. Ia merasa telah mendapat suatu pelajaran hidup yang luar biasa dari Mbok Minah. Ia berjanji dalam hatinya bahwa ia akan selalu bersikap jujur di manapun ia berada, walaupun hanya untuk hal yang kecil sekalipun.


Oleh: Nurul Maulida, S.Pd