• Al-Amjad

International Youth Day: Menjadi Pemuda Kebanggaan Rasulullah SAW

Hari Pemuda Internasional diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Agustus. Menurut PBB, Hari Anak Muda Internasional didedikasikan untuk peran pemuda dalam membawa perubahan untuk mengatasi masalah global dan mencapai pembangunan berkelanjutan. Dilansir dari website United Nation, International Youth Day 2022 dirayakan dengan tema Intergenerational Solidarity: Creating a World for All Ages yang berarti Solidaritas Antargenerasi: Menciptakan Dunia untuk Semua Usia. Peringatan Hari Remaja Internasional memang dirayakan dengan tema yang berbeda-beda setiap tahunnya yang disesuaikan dengan kondisi dunia saat ini.


Kilas balik peradaban Islam pada masa Rasulullah SAW, dalam hadits riwayat Tirmidzi, dari Anas bin Malik meriwayatkan bahwa terdapat beberapa pemuda berbagai usia yang dipercaya Rasul karena memiliki keahlian masing-masing. Salah satunya adalah yang terkenal dengan sebutan Sang Tinta Rasulullah, Jami’ul Quran, yaitu Zaid Bin Tsabit. Sosok Zaid merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang cerdas dan menguasai berbagai bahasa. Ketika Rasulullah mendapat wahyu dari Allah, beliau akan mendiktekannya kepada Zaid yang kemudian dituliskan di pelepah kurma atau kulit hewan.


Zaid bin Tsabit mengatakan, “Aku dipertemukan dengan Nabi saat beliau tiba di Madinah. Ada yang mengatakan, ‘Ini adalah seorang anak dari Bani Najjar. Ia telah menghafal 17 surat.’ Aku pun membacakannya di hadapan beliau. Beliau sangat terkesan. Lalu beliau berkata, ‘Pelajarilah bahasa Yahudi (bahasa Ibrani). Sesungguhnya aku tidak bisa membuat mereka beriman dengan kitabku’. Aku pun melakukan apa yang beliau minta. Berlalulah waktu tidak lebih dari setengah bulan, aku pun menguasainya. Kemudian aku menulis surat Nabi kepada mereka. Apabila mereka yang mengirimkan surat kepada beliau, akulah yang menerjemah.”


Setelah Rasulullah SAW wafat, banyak penghafal Quran berguguran pada perang Yamamah (perang melawan nabi palsu), Umar bin Khattab khawatir para hafidz terus berguguran karena konflik tak kunjung mereda, ia mendiskusikan ide membukukan Al Quran. Abu Bakar memerintahkan Zaid untuk membukukan Al Quran. Sebuah tugas yang berat dan jika boleh memilih, Zaid lebih memilih untuk memindahkan bukit dari pada membukukan firman Allah. Zaid meneliti Al Quran, mengumpulkannya dari daun-daun lontar dan hafalan-hafalan orang. Dengan rahmat Allah, ia berhasil menjalankan amanah tersebut dengan baik.


Figur seorang Zaid bin Tsabit memiliki kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat. Kaum muslimin sangat menghormatinya. Suatu hari Zaid mengendarai hewan tunggangannya. Kemudian Abdullah bin Abbas mengambil tali kekangnya dan menuntunnya. “Biarkan saja wahai anak paman Rasulullah.” pinta Zaid. “Tidak. Seperti inilah selayaknya kita menghormati ulama kita,” jawab Ibnu Abbas. Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu wafat pada tahun 45 H di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu. Tinta adalah ungkapan untuk keluasaan ilmu yang dimiliki Zaid bin Tsabit. Karena di zaman dahulu, menulis ilmu itu membutuhkan tinta.



Hingga hari ini, berbagai generasi di dunia merasakan hasil kerja nyata Zaid bin Tsabit karena kecakapannya membukukan Al Quran, sebagai pedoman hidup umat muslim di muka bumi ini. Kisah Zaid bin Tsabit kiranya menjadi teladan untuk kita anak muda untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan Al Quran. Ambillah teladan Zaid sebagai Tinta Rasulullah SAW, isi kepalanya mendunia tapi tak lantas membuat hatinya tinggi. Jalankan secara beriringan ilmu dunia dan ilmu akhirat, Insya Allah kita menjadi pemuda yang berkontribusi mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. (ptr)


Source:

https://islami.co/zaid-bin-tsabit-sekretaris-rasulullah-yang-kecerdasannya-luar-biasa/

https://kisahmuslim.com/6026-zaid-bin-tsabit-sang-penerjemah-rasulullah.html