Isra’ Mi’raj: Perjalanan Langit yang Menurunkan Tanggung Jawab Bumi
- Al-Amjad

- Jan 20
- 3 min read
Di antara peristiwa agung dalam sejarah Islam, Isra’ Mi’raj menempati posisi yang istimewa. Ia bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah peristiwa spiritual yang sarat makna, mengandung pesan mendalam tentang iman, keteguhan, dan tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah di muka bumi.
Peristiwa ini terjadi pada masa yang amat berat bagi Rasulullah saw. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan). Beliau kehilangan dua sosok terpenting dalam hidupnya: Khadijah binti Khuwailid, istri sekaligus pendukung setia dakwahnya, dan Abu Thalib, paman yang melindunginya dari tekanan Quraisy. Di tengah luka, kesedihan, dan penolakan dakwah yang terus-menerus, Allah justru mengundang Nabi-Nya dalam sebuah perjalanan agung. Seolah Allah hendak menegaskan bahwa setelah kesulitan, selalu ada penguatan dan pertolongan.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa iman tidak selalu tumbuh dalam kenyamanan. Justru pada saat manusia berada di titik terendah, Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Rasulullah saw. diperjalankan dengan cara yang berada di luar nalar manusia. Bagi sebagian orang Quraisy, peristiwa ini dianggap mustahil dan dijadikan bahan ejekan. Namun bagi orang-orang beriman, Isra’ Mi’raj adalah ujian keyakinan. Abu Bakar Ash-Shiddiq bahkan mendapat gelar Ash-Shiddiq karena keimanannya yang teguh: membenarkan Rasulullah tanpa ragu.
Dari perjalanan malam itu, umat Islam tidak hanya menerima kisah luar biasa, tetapi juga amanah besar: perintah shalat lima waktu. Menariknya, shalat tidak diturunkan melalui perantara malaikat di bumi, melainkan diberikan langsung oleh Allah di langit tertinggi. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar ritual, melainkan kebutuhan ruhani dan fondasi kehidupan seorang Muslim. Shalat menjadi penghubung antara langit dan bumi, antara hamba dan Tuhannya.
Namun, realitas hari ini sering kali menunjukkan paradoks. Banyak umat Islam yang memperingati Isra’ Mi’raj dengan penuh kemeriahan, tetapi masih lalai dalam menjaga shalat. Peringatan seremonial terkadang lebih dominan daripada perenungan makna. Padahal, esensi Isra’ Mi’raj justru terletak pada perubahan sikap dan kesadaran spiritual. Shalat seharusnya membentuk karakter, menumbuhkan kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
Isra’ Mi’raj juga mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Setelah mencapai puncak kedekatan dengan Allah, Rasulullah saw. tidak tinggal di langit. Beliau kembali ke bumi untuk melanjutkan misi dakwah, membimbing umat, dan memperbaiki masyarakat. Ini adalah pesan penting bahwa spiritualitas sejati tidak menjauhkan manusia dari realitas sosial, tetapi justru mendorongnya untuk hadir dan memberi manfaat.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan Isra’ Mi’raj menjadi sangat relevan. Di tengah hiruk-pikuk dunia, tuntutan ekonomi, dan derasnya arus informasi, manusia sering merasa lelah secara batin. Banyak yang sukses secara materi, tetapi kosong secara spiritual. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa manusia membutuhkan jeda ruhani, momen untuk “naik” mendekat kepada Allah melalui shalat, doa, dan refleksi diri, agar mampu “turun” kembali ke kehidupan dengan jiwa yang lebih tenang dan arah yang jelas.
Perjalanan Nabi juga mengajarkan bahwa keterbatasan manusia bukanlah penghalang bagi kekuasaan Allah. Apa yang tampak mustahil di mata manusia, sangat mungkin terjadi atas kehendak-Nya. Pesan ini memberi harapan bagi siapa pun yang sedang berada dalam kesulitan. Isra’ Mi’raj adalah pengingat bahwa Allah Maha Melihat perjuangan hamba-Nya, dan pertolongan-Nya datang dengan cara yang sering kali tidak terduga.
Selain itu, Isra’ Mi’raj menanamkan kesadaran akan pentingnya persatuan umat. Rasulullah saw. memimpin para nabi dalam shalat di Masjidil Aqsha, sebuah simbol kesinambungan risalah dan persaudaraan lintas zaman. Ini adalah pesan bahwa Islam datang untuk menyatukan, bukan memecah belah. Di tengah polarisasi dan perbedaan yang sering mengeras di masyarakat, semangat persatuan ini perlu kembali dihidupkan.
Akhirnya, Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa untuk dikenang setiap tahun, tetapi perjalanan makna yang perlu dihidupi setiap hari. Ia mengajarkan keteguhan iman di tengah ujian, pentingnya shalat sebagai tiang kehidupan, serta keseimbangan antara kedekatan dengan Allah dan tanggung jawab terhadap sesama manusia. Jika pesan-pesan ini benar-benar kita resapi dan praktikkan, maka Isra’ Mi’raj akan terus hidup, bukan hanya dalam cerita, tetapi dalam perilaku dan akhlak umat Islam.
Isra’ Mi’raj sejatinya bukan hanya kisah perjalanan Nabi Muhammad saw., melainkan cermin bagi perjalanan batin setiap manusia. Ia mengajarkan bahwa kelelahan hidup tidak selalu dijawab dengan lari, tetapi dengan kembali meneguhkan hubungan kepada Allah. Dari sanalah lahir kekuatan untuk menghadapi dunia dengan lebih jernih dan bermakna. Jika Isra’ Mi’raj hanya berhenti sebagai cerita yang diulang setiap tahun, maka kita kehilangan ruhnya. Namun jika ia menjelma dalam shalat yang terjaga, akhlak yang membaik, dan kepedulian sosial yang nyata, maka Isra’ Mi’raj akan terus hidup—menghubungkan langit dan bumi dalam diri manusia.
Semoga peringatan Isra’ Mi’raj tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama. Karena sejatinya, setiap Muslim memiliki “Isra’ Mi’raj”-nya sendiri: perjalanan batin menuju ketakwaan, dan kembalinya ia ke bumi sebagai pribadi yang lebih baik dan bermanfaat.
-Fauziah Fattah Khair, pendidik dan penulis.
Daftar Pustaka:
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
Shihab, M. Quraish. Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. Jakarta: Lentera Hati.
Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera AntarNusa.
Comments