• Achmad A Trisatya

Mensyukuri Nikmat



Segala sesuatu yang menjadi sebuah rutinitas, seringkali diabaikan bahwa hal tersebut adalah nikmat. Sebagaimana matahari pagi selalu terbit dari ufuk timur, yang memberikan tanda kepada seluruh makhluk bahwa pagi telah tiba, hanyalah sebuah fenomena biasa yang sudah terjadi setiap hari selama ribuan tahun.


Lebih lanjut sebagaimana udara yang selalu ada untuk kita hidup setiap detik selama kita masih mampu untuk bernapas, juga sering terlupakan bahwa itu adalah nikmat, terlebih dengan ketidakmampuan manusia untuk melihat wujud udara tersebut. Padahal sungguh tersiksanya apabila ada saudara kita yang kesulitan untuk bernapas, dan harus membayar mahal demi bisa menikmati udara, yang di lain sisi, bagi kita yang sedang merasa sehat, terkadang tidak ingat untuk mensyukuri kemudahan yang diberikan Allah untuk bernapas dan menghirup udara segar.


Kemudian sebagai hamba Allah yang senantiasa tidak luput dari kesalahan dan dosa, merupakan suatu hal yang sangat bijak apabila kita selalu mengingat nikmat Allah yang kita dapatkan dan mensyukuri nikmat tersebut dengan tulus hanya mengharap Ridho-Nya. Terdapat beberapa cara yang mungkin dapat membantu kita dalam mensyukuri nikmat tersebut.


Pertama, mensyukuri nikmat sehat dengan melihat yang sakit. Pada masa pandemi ini tentu tidak disarankan untuk menjenguk yang sakit, namun dengan masifnya pemberitaan di berbagai media, tentu dapat menjadi teguran bagi kita yang sehat yang sering abai dengan sikap syukur, bahwa kesehatan adalah suatu hal yang sangat dirindukan bagi orang yang sakit. Dengan mengetahui bahwa ada saudara kita yang mendambakan kondisi kesehatan yang kita alami, tentunya dapat mengetuk hati kita untuk mengingat Allah, bahwa Allah masih memberikan kenikmatan akan kesehatan tersebut.


Kedua, bersedekah. Nikmat sering dianalogikan dengan rezeki, terkhusus adalah rezeki yang berbentuk materil. Bersedekah kepada yang membutuhkan, juga dapat menjadi sebuah wujud kesyukuran atas nikmat rezeki yang didapatkan. Al-Quran juga menyatakan bahwa dari rezeki yang kita miliki, terdapat sebahagian milik mereka yang membutuhkan. Bahkan salah satu rukun Islam adalah membayar zakat, yang merupakan bagian dari sedekah.


Ketiga, berziarah. Sudah merupakan suatu kepastian bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Namun kematian identik dengan ketakutan, kengerian, akhir dari segalanya, yang membuat kita sering kali membuang jauh-jauh pemikiran bahwa kita akan mati. Namun kadangkala pikiran yang mengenyampingkan tentang kematian, justru membuat sebagian kita menganggap kita tidak akan berjumpa dengan kematian. Ikut melayat apabila ada jiran tetangga yang meninggal, berziarah ke makam keluarga atau saudara, adalah merupakan wujud nyata dalam mengingat bahwa kita pun akan bertemu dengan maut, yang tidak diketahui pasti kapan akan datangnya.


Keempat yang tidak kalah pentingnya dan sering terlupa adalah semakin giat beribadah, berikhtiar, berkegiatan, yang intinya semakin giat menjalani kehidupan. Ketiga poin yang disebutkan di atas tidak akan mampu bertahan lama apabila tidak ada poin yang terakhir. Melihat yang sakit hanya akan dapat bertahan apabila kita senantiasa menjaga kesehatan. Bersedekah hanya akan dapat berlanjut apabila kita semakin giat mencari rezeki. Berziarah pun tidak akan mampu terlaksana jika kita berada dalam kondisi sehat. Tanpa ibadah yang meningkat secara kuantitas maupun kualitas pun, bisa jadi Allah akan mengurangi nikmat yang sudah diberikan kepada kita.


Peningkatan hidup berkelanjutan, baik dari segi ibadah, kegiatan, ikhtiar, muamalah, bermasyarakat, belajar, dan seluruhnya adalah suatu hal yang harus terus menurus meningkat seiring bertambahnya usia kita. Mari senantiasa kita mengucap syukur karena masih dapat menikmati seluruh kenikmatan yang dititipkan kepada kita, dan mari senantiasa juga kita berikhtiar dan beribadah semoga kenikmatan terus dapat kita nikmati, kesabaran terus dapat bertambah, demi hidup di dunia yang bermakna, dan kehidupan di akhirat yang penuh kesenangan.