• Sri Minda Murni

Program PINTAR dan Guru dengan Pola Berfikir Tumbuh

Prof. Dr. Sri Minda Murni, M.S.

Tim Ahli Perguruan Islam Al-Amjad

Guru Besar Universitas Negeri Medan

Kordinator LPTK Tanoto Foundation Provinsi Sumatera Utara




Buku ini berjudul The Growth Mindset Coach, tulisan Annie Brock dan Heather Hundley, diterbitkan Ulysses Press tahun 2016. Buku yang ada pada saya ini kebetulan merupakan sebuah karya terjemahan oleh penerjemah Khairinka Rania Lizadhi, diterbitkan Penerbit BACA. Buku ini merupakan hadiah seorang teman yang memang sangat suka membaca - Jepri Sipayung – seorang Teacher Training Specialist di Program PINTAR Tanoto Foundation.



Sesuai judulnya buku ini memperkenalkan dua pola berfikir, yakni pola berfikir tetap dan pola berfikir tumbuh. Pola berfikir tetap dilandasi keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan seseorang dibawa lahir. Sebaliknya pola berfikir tumbuh dilandasi keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan seseorang dapat tumbuh lewat latihan, ketekunan, dan usaha karena setiap orang sesungguhnya memiliki potensi tanpa batas untuk belajar dan berkembang.


Sejumlah contoh diberikan untuk mendukung kebenaran pola berfikir tumbuh, diantaranya adalah sejarah hidup Wilma Rudolph – seorang pelari olimpiade – yang lahir prematur dan kehilangan fungsi kaki karena terserang penyakit polio namun akhirnya berhasil meraih medali emas di Olimpiade Roma tahun 1960. Selain itu ada juga gambaran sosok Marie Curie dan Malala Yousafzai yang terkenal itu.


Buku ini menarik karena sangat relevan bagi guru-guru di sekolah mitra Program PINTAR Tanoto Foundation, termasuk Perguruan Islam Al-Amjad, karena sesungguhnya guru yang kita cita-citakan bersama adalah guru yang memiliki pola berfikir tumbuh.


Pertama, guru dengan pola berfikir tumbuh tidak akan pernah menghakimi anak didiknya bodoh dengan ukuran apapun termasuk rumusan Kompetensi Dasar dan tujuan pembelajaran. Itulah sebabnya kita melatih dan mendampingi guru untuk realistis dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Guru dengan pola berfikir tumbuh akan terus berusaha menemukan cara terbaik yang paling disukai anak didiknya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda dan tugas guru adalah menemukan gaya belajar yang khas tersebut sehingga tugas mengajar dan belajar menjadi menyenangkan bagi kedua belah pihak.


Kedua, guru dengan pola berfikir tumbuh senantiasa memiliki cara-cara yang unik dan baru dalam mengajar. Mereka adalah guru yang senantiasa menantang diri untuk memberi pengalaman belajar yang menarik, berharga, dan bermakna bagi anak didik. Struktur MIKiR yang kita ajarkan tidak rigid mengikat tetapi dapat mengakomodir segala bentuk kreasi untuk merancang bagian M, I, Ki, dan R nya. Guru dengan pola berfikir tumbuh dapat menuntaskan tuntutan kurikulum secara efektif dan efisien sehingga peserta didik dapat merasakan perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baik di dalam diri yang membuat mereka merasa bahagia dan sejahtera.


Ketiga, guru dengan pola berfikir tumbuh akan selalu berada di dekat anak didiknya untuk membantu mereka keluar dari kesulitan belajarnya dan untuk mampu mengenali diri sendiri dan menemukan kekuatan/kelebihannya. Di program PINTAR, guru dibimbing untuk mampu merancang tugas dan pertanyaan yang bersifat high order thinking bukan sekedar pertanyaan dan tugas yang bersifat ingatan. Mereka juga dilatih untuk mampu mengelola kelas dalam pembelajaran secara berpasangan/berkelompok, tidak semata klassikal. Dengan dua kompetensi itu, guru yang memiliki pola berfikir tumbuh akan mampu memacu anak didik untuk mengubah kegagalan menjadi kesempatan memperbaiki diri bahkan memotivasi mereka untuk mencapai prestasi terbaik di bidang yang diminatinya.


Kelemahan buku ini lebih kepada gaya penulisannya yang cenderung sangat praktis sehingga terkesan menggurui. Pembaca yang menyukai konsep-konsep yang bersifat filosofis tidak akan terlalu menikmati buku ini karena kepraktisannya. Sebaliknya buku ini cocok bagi guru yang merindukan resep untuk langsung dipraktikkan di kelasnya maupun untuk mengubah hal yang selama ini dinilainya benar antara lain tidak lagi membuat denah kelas berdasarkan kepintaran anak didik atau tidak lagi menyuruh anak yang gagal menjawab pertanyaan berdiri di depan kelas.


Kelemahan lainnya, buku ini merupakan karya terjemahan sehingga bahasa yang digunakan juga terkesan merepresentasikan konteks budaya yang berbeda. Sebahagian guru akan kesulitan menerapkan kiat-kiat yang diberikan misalnya mengobrol dua menit dengan anak didik tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya denagn sekolah. Hal ini akan relatif sulit dilakoni guru karena kebanyakan guru belum menganut alam berfikir demokratis dan egalitarian sebagaimana yang digambarkan pada buku.


Kesimpulannya buku ini sangat relevan dengan semangat yang kita kembangkan di Program PINTAR. Kita percaya bahwa pembelajaran aktif yang kita berikan melalui pelatihan dan pendampingan akan lebih berhasil manakala diawali dengan perubahan pada pola berfikir guru dari pola berfikir tetap menjadi pola berfikir tumbuh. Sebagai tambahan, jangan-jangan kegagalan kita dalam memperoleh dampak terbaik dari pelatihan dan pendampingan selama ini dikarenakan sebahagian guru yang kita latih masih memiliki pola berfikir tetap.


Tesis saya adalah guru yang memiliki pola berfikir tumbuh akan lebih potensial mempraktikkan hasil-hasil pelatihan. Bila kita sepakat dengan gagasan ini, mungkin ada baiknya kita mengumpulkan data terlebih dahulu mengenai guru-guru yang akan kita latih, apakah mereka saat ini memiliki pola berfikir tetap atau pola berfikir tumbuh. Hal menarik lain untuk dikaji adalah apakah guru dengan pola berfikir tetap dapat bergeser ke pola berfikir tumbuh dengan pelatihan-pelatihan yang kita berikan. Wallohua’lam.